
BOJONEGORO, 26 Februari 2026 – Pengerjaan jembatan di Desa Trembes, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, menuai perhatian masyarakat. Infrastruktur yang digadang-gadang akan memperlancar akses antarwilayah desa tersebut dinilai belum menunjukkan perkembangan berarti meski waktu pelaksanaan sudah berjalan.
Hasil pemantauan di lokasi memperlihatkan aktivitas proyek belum berlangsung maksimal. Sejumlah bahan bangunan memang telah berada di sekitar titik pekerjaan, tetapi perubahan fisik di lapangan masih terbatas. Situasi ini memunculkan kekhawatiran warga karena jembatan tersebut merupakan jalur penting yang menopang aktivitas harian.
Bagi masyarakat Trembes, akses tersebut berfungsi vital. Petani mengandalkannya untuk membawa hasil panen, pelajar melintasinya setiap hari untuk bersekolah, sementara warga lainnya memanfaatkannya untuk keperluan sosial maupun ekonomi. Ketika pembangunan berjalan lambat, dampaknya langsung dirasakan dalam keseharian mereka.
Diketahui proyek ini dibiayai melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Desa. Karena bersumber dari anggaran publik, warga berharap pelaksanaannya terbuka dan dapat dipantau bersama. Namun hingga kini, di area pekerjaan belum terlihat papan informasi proyek yang biasanya memuat rincian anggaran, durasi pekerjaan, serta pelaksana kegiatan.

Kondisi tersebut memicu berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Beberapa warga menilai informasi dasar seperti nilai anggaran dan target rampung seharusnya dipublikasikan agar masyarakat bisa ikut mengawasi dan memastikan pelaksanaan sesuai perencanaan.
Sorotan juga mengarah pada aspek teknis konstruksi. Secara kasat mata, sebagian warga mempertanyakan kesesuaian material yang digunakan, termasuk besi begel yang terpasang. Meski demikian, mereka menyerahkan penjelasan teknis sepenuhnya kepada pihak pelaksana dan pengawas untuk memberikan klarifikasi sesuai standar yang berlaku.
Seorang konsultan yang ditemui di lokasi belum memberikan penjelasan rinci mengenai perkembangan pekerjaan maupun estimasi penyelesaian. Informasi terkait penerapan keselamatan kerja, seperti penggunaan alat pelindung diri (APD), juga belum disampaikan secara detail.
Konfirmasi kepada Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) telah diupayakan melalui pesan singkat. Namun sampai berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab lambannya progres, rincian Rencana Anggaran Biaya (RAB), maupun target waktu penyelesaian.
Masyarakat berharap pemerintah desa dan pihak terkait segera memberikan penjelasan terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan. Mereka menilai transparansi merupakan bentuk tanggung jawab atas penggunaan dana negara sekaligus jaminan bahwa proyek berjalan sesuai ketentuan.
Selain itu, warga juga meminta pengawasan diperkuat guna memastikan kualitas pekerjaan tetap terjaga dan penyelesaian proyek dapat dipercepat. Harapannya, jembatan tersebut segera rampung dan dapat dimanfaatkan optimal untuk meningkatkan konektivitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi desa.
Dengan komitmen keterbukaan dan percepatan pengerjaan, pembangunan jembatan di Desa Trembes diharapkan benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi contoh pengelolaan proyek yang akuntabel serta profesional.


